Thursday, April 21, 2016

Maharaja Suryanata jadi raja Nagara Dipa

Raja Majapahit yang belum punya anak mendapatkan mimpi untuk bertapa di puncak gunung Majapahit. Di tempat pertapaan, ia menerima putra yang dibawa malaikat keluar dari matahari dan kemudian jatuh ke pangkuannya. Budak itu berpenyakit kulit. Budak itu kemudian diberi nama Raden Putera.
Berkat budak itu, Raja Majapahit beroleh enam orang anak tiga laki-laki dan tiga perempuan. Kekuasaan Majapahit kemudian meluas, menaklukkan seluruh tanah Jawa dan Bantan, Jambi, Palembang, Mangkasar, Pahang, Patani, Bali, Pasai, Campa dan Minangkabau.

Lambu Mangkurat ke Majapahit

Lambu Mangkurat dalam mimpinya diberi tahu ayahnya tentang pertapaan raja Majapahit itu. Setelah bangun tidur, Lambu Mangkurat menyuruh panggil Aria Magatsari dan Tamanggung Tatah Jiwa. Maka kemudian berangkatlah Lambu Mangkurat beserta menteri pedagang Wiramartas membawa Patih Baras, Patih Pasi, Patih Luhu dan Patih Dulu. Kepergian ini direstui oleh  puteri Junjung Buih yang memberi sangu jawadah dan minyak baboreh. Jawadahnya di antaranya mamegan, gagatas, nanuman, dodol dan alua daram.
Dengan menunggang malangbang Si Prabayaksa, berlabuhlah Lambu Mangkurat dan rombongannya di bandar Majapahit. Menteri bandar melaporkan ke Patih Gajah Mada. Raja dan pembesar Majapahit seperti Aria Dilah, Aria Sinum, Kuda Pikatan, Rangga Lawi dan Hajaran takut dan taha kepada Lambu Mangkurat. Tetapi demi menjaga kejantanan, disuruh hadapnya juga Lambu Mangkurat dan rombongan.
Patih Gajah Mada, Aria Dilah, Aria Jamba, Rangga Lawi, Aria Sinum, Kuda Pikatan, Hajaran Panoleh dan Dipati Lampur serta menteri-menteri lain bersiap dengan pakaiannya menanti raja di sitiluhur.Setelah bertemu Raja Majapahit, Lambu Mangkurat menjelaskan maksudnya memohon suami untuk rajanya. Kata Raja Majapahit, yang tua beristri di Palembang, yang tengah beristri di Bali, yang muda beristri ke Surabaya. Adapun anak perempuannya, yang tua bersuami ke Minangkabau, yang tengah bersuami ke Bantan dan yang muda bersuami ke Mangkasar. Lambu Mangkurat menjelaskan, yang dipohonkannya adalah yang didapat dari hasil pertapaan. Raja Majapahit kemudian menyerahkan Raden Putera, katanya “Hai mamaku Lambu Mangkurat, hamba menyerahkan anak hamba”

Pernikahan Matahari dan Air

Empat hari empat malam berlayar, sampailah Lambu Mangkurat dan rombongan ke Pandamaran.Di sini kapal si Prabayaksa tidak bergerak. Kata Raden Putra, ada naga laki bini yang membelit kapal.Naga itu hamba Puteri Junjung Buih karena segala hewan yang ada di air takluk pada puteri itu.
Lambu Mangkurat selama di Majapahit tidak menyembah raja itu karena menurutnya ilmu raja itu tidak melebihi ilmunya, perkasanya tidak melebihi keperkasaannya, keberaniannya tidak melebihi keberaniannya, hartanya tidak melebihi hartanya. Lambu Mangkurat menghormati Raden Putera karena menurutnya, asal bangsanya lebih dari asal bangsa Majapahit, ilmunya melebihi, perkasanya melebihi, keberaniannya melebihi, hartanya melebihi, martabatnya juga melebihi.
Raden Putera menyatakan akan terjun ke air,dan berpesan nanti tiga hari tiga malam ia tidak akan keluar sida puja bantani itu, maka aku keluar. Tidak keluar Raden Putera, Lambu Mangkurat menyuruh Wiramartas berlayar.Sesampai di Negara Dipa, Wiramartas memberitahu Aria Magatsari dan Tamanggung Tatah Jiwa yang menyampaikan ke segala menteri. Lambu Mangkurat bersuka-sukaan. Maka keluarlah Raden Putera dalam bentuk yang sangat gagah. Sarungnya yang seperti campah kudung hilang. Ketika Raden Puterai Prabayaksa, tempat berdirinya timbul gong. Gugup Lambu Mangkurat, dikaitnya kena tepi gong itu, maka diberi nama gong Si Rabut Paradah.
Raden Putera kemudian menyampaikan bahwa nama sebenarnya adalah Suryanata artinya raja matahari. Sekaliannya yang di darat, yakni segala yang ada di atas bumi dan segalanya yang ada di air, yakni segala yang ada di dalam air, takluk kepadanya. Maka tiada yang dapat mengambil isteri Puteri Junjung Buih selain dirinya, karena sudah rasi dirinya, air dengan matahari itu serasi. Permulaan Si Rabut Paradah dipalu orang di Padamaran, maka kemudian Padamaran disebut Pabantanan.
Berlayar dari Pabantanan mudik, Raden Suryanata ditempatkan Lambu Mangkurat di rumah bekas Ampu Jatmaka. Kemudian diadakan pesta empat puluh empat malam. Segala sakai datang, di antaranya orang batang Tabalung, batang Baritu, batang Alai, batang Hamandit, batang Balangan, batang Petak, batang Biaju kecil, batang Biaju besar, Sabangau, Mandawai, Katingan, Sampit serta orang takluknya, Pambuang serta orang takluknya.

0 komentar:

Post a Comment